1 Mei 2008

setiap anak cerdas

A : “Anakmu yang itu suka nyanyi ya? Lucu ya? PD gitu lho... keren!”
B : “Iya, emang. Kalau di kelas juga gitu. Kalau dah nyanyi paling semangat. Tapiiii... coba kalau dah giliran baca dan tulis... Mmm sampe mata mau keluar... ga mudeng-mudeng. B – A.....? Dieeemmm... aja. Ngliatin tok. Error.”
A : “Hehehe...cape deh...”

C : “Anak yang itu lucu ya. Baik lagi”
D : “Iya. Pinter tuh dia. Baca, tulis, hitung, OK punya tuh...”
C : “Hmm! Senengnya kalau punya murid gitu ya. Dah pinter, baik lagi.”


Itu adalah sepenggal percakapan yang tidak jarang saya dengar di antara para guru. Saya yakin, anda juga tidak asing dengan percakapan demikian. Bahkan mungkin, anda juga sering melakukan percakapan seperti itu dengan teman-teman anda.

Pintar atau cerdas dalam dunia pendidikan sering diasumsikan dengan mampu mengerjakan tugas-tugas di kelas dengan hasil di atas rata-rata kelas, terutama pada tugas-tugas akademis, seperti membaca, menulis, berhitung, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana dengan murid-murid yang berprestasi pada tugas-tugas non akademis, seperti menyanyi, menari, bermain peran, olahraga, dan lain sebagainya? Tanpa diikuti dengan nilai akademis yang menonjol, saya yakin bahwa sebagian besar guru akan menilai bahwa murid-murid tersebut adalah murid-murid yang tidak pintar. Lalu, bagaimana bila keadaannya berbalik? Seorang murid yang mendapat nilai tinggi pelajaran berhitung, tidak bisa menyanyi dengan baik sama sekali. Saya yakin (hampir 100%) bahwa guru tetap menilai dia sebagai murid yang pintar. Ironis bukan? Namun itulah kenyataan dunia pendidikan di Indonesia saat ini.

Melalui buku ini saya belajar bahwa kata “pintar” atau “cerdas” memiliki arti yang lebih luas daripada sekedar mampu mengerjakan tugas-tugas akademis di atas rata-rata kelas. Setiap anak terlahir dengan kecerdasannya masing-masing yang tidak dapat disamakan dengan anak lain. Ada anak yang cerdas dalam menari, cerdas dalam berolahraga, cerdas dalam berhitung, cerdas dalam menjalin relasi sosial dengan lingkungan sekitarnya, dan lain sebagainya. Anak yang cerdas atau pintar adalah anak yang tahu kemampuan dan bakat yang ia miliki dan bisa mengoptimalkan bakatnya itu sehingga menjadi sesuatu yang berguna tidak hanya bagi dirinya, namun juga bagi orang lain. Dengan demikian, saya berpendapat bahwa guru yang cerdas adalah guru yang mampu melihat bakat atau kemampuan setiap murid-muridnya dan membantu murid-muridnya untuk mengoptimalkan setiap talenta yang telah TUHAN berikan dalam hidupnya.


written by: Lyani Sihombing

4 komentar:

  1. iya sudah lama aku mikir kyak gitu

    kenapa yang dianggap pinter itu anak yang punya prestasi akademik yang bagus,, padahal kalo dipikir-pikir banyak juga anak yang aktif di non-akademik justru lebih layak dibilang pintar

    pintar bagiku adalah memaksimalkan bakatnya, bisa jadi di akademik atao non akdemik (untuk yang masih sekolah)
    dapat menggunakan yang dia miliki untuk bertahan hidup,, (untuk yang selesai sekolah)

    BalasHapus
  2. aq lebih mengindentikkan cerdas dengan berfikir kreatif..
    tau khan..
    "menemukan hal-hal yang luar biasa di balik yang tampak biasa"...

    orang pintar karena dia belajar...
    orang cerdas karena dia berfikir dalam hidup...

    =D

    BalasHapus
  3. setiap anak cerdas minum tolak angin...

    BalasHapus
  4. setuju ... setiap anak dilahirkan dengan sebuah kelebihan meskipun dengan berbagai keterbatasannya ...

    *dikutip dari acara kick andy episode "Ada asa di didalam nada"*

    BalasHapus