13 Juni 2008

hahahihi #1

Di sebuah pasar tradisional.

Pembeli: “Mas, telornya berapa sekilo?”
Penjual: “Telor ayam atau telor bebek?”
Pembeli: “Telor ayam.”
Penjual: “Telor ayam biasa atau ayam kampung?”
Pembeli: “Ayam biasa.”
Penjual: “Yang lokal atau yang import?”
Pembeli: “Yang lokal aja.”
Penjual: “Yang lokalnya mau yang dari Jakarta, Bogor atau Depok?”
Pembeli: “Yang Jakarta deh…” (Sambil terlihat kesal).
Penjual: “Mau yang Jakarta Pusat, Barat, Timur, Utara, atau Selatan?”
Pembeli: “Mas ini jual telor atau mau jalan-jalan?”
Penjual: “Maaf Bu, saya penjual mie ayam di sebelah. Kebetulan yang jual telor lagi ke belakang. Saya disuruh ngobrol dulu sama pembeli sampe dia dateng.”

============================================

ceritanya di metromini, ada 2 orang Ibu, yang satu dari suku Jawa yang satu lagi dari suku Batak.

Ibu Jawa: Ibu orang Batak ya?
Ibu Batak: Iya eda, kenapa rupanya?
Ibu Jawa: Kenapa ya orang Batak semua daging dimakan, dari tikus sawah, anjing, babi, celeng dll?
Ibu Batak: Kenapa rupanya? (sambil cemberut karena merasa nggak suka ditanya begitu)
Ibu Jawa: Iya, kan masih banyak ayam, bebek, kerbau, kambing yang lazim di makan orang?
Ibu Batak: (dengan wajah di kalem2 in ... cool face kata anak sekarang) Sebenarnya ya Bu, karena dilarang pemerintahnya, kalau tidak ... Ibu pun ku makan ...
(si Ibu Jawa pun langsung mencet bel supaya sudaco nya berhenti biar bisa turun dia, padahal tujuannya masih sejauh 10 tonggak listrik lagi ...)

=============================================================

Ada keluarga Batak sedang ke Jakarta. Sang ibu berkata, “Nak… pergilah sana ke rumah tulang-mu yang di Jl. Belimbing No. 2, biar Mamak di rumah saja.” Akhirnya sang anak pergi ke Jl. Belimbing. Tetapi sesampainya di sana sang anak lupa mencatat nomor rumahnya. Akhirnya dia menelepon ibunya, “Mak… aku sudah di jalan Belimbing tapi aku lupa nomor rumahnya.” Kata Sang ibu, “Kalau nomor rumah tinggal cari saja di depan pagar tiap rumah biasanya ada namanya, cari saja namanya, Mohon Simanjuntak.” Sang anak menjawab, “Tidak ada mak yang namanya itu, adanya “MOHON JANGAN PARKIR DI DEPAN PINTU”


taken from various source

6 komentar:

  1. jangan-jangan yg penjual itu tokohnya orang jawa juga, pembelinya orang batak..
    emang dasar narsiis yah...

    btw, ini mngkn jg bs jadi hahahihi,
    "kenapa orang jawa ama batak bisa berteman?"

    p.s: yg paling lucu menurutku yg kedua..=D

    BalasHapus
  2. @neesha
    karena berteman yg sebenarnya adalah berteman tanpa memandang latar belakang suku dan budaya...

    BalasHapus
  3. haduh komen apa ya san... lucu koq
    tapi yakin aku kamu masak mau makan aku??!! anisah aja ya

    BalasHapus
  4. oh ini tulisan yg ktna artati lucu itu..

    not bad..

    BalasHapus
  5. @art
    ya... lihat ntar deh

    @icha alley
    hihihi, emg lucu kan... :)

    @ansis
    :*

    BalasHapus