18 Oktober 2008

Life is Beatiful

“Apakah Anda sudah cukup menikmati hidup yang Anda jalani saat ini?”

Bagaimana kita menjawab pertanyaan tersebut? Apakah kita menjawab Ya atau Tidak? Beberapa orang mungkin sulit untuk menjawabnya. Orang-orang lain akan sangat mudah mengatakan Ya. Sementara, sekelompok orang lain akan sangat cepat menjawab Tidak. Bagaimana dengan diri Anda sendiri? Jawaban apa yang Anda berikan?

Bagi Saya secara pribadi, Saya tidak dapat menjawab pertanyaan ini sebelum Saya membaca buku tersebut. Saya tidak tahu apakah Saya sudah cukup menikmati hidup yang sedang saya jalani atau belum. Kemudian Saya mencoba merenungkan bagaimana Saya menjalani keseharian Saya dengan berbagai aktivitas yang ada, bagaimana Saya merespon berbagai tanggung jawab yang diberikan pada Saya. Akhirnya, Saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa Saya lebih banyak mengeluh daripada menikmati tanggung jawab yang harus Saya lakukan. Ini berarti bahwa Saya belum menikmati hidup yang Saya jalani. Saya selalu merasa dikejar waktu. Saya tidak mempunyai cukup banyak waktu menyelesaikan pekerjaan saya. Saya tidak punya waktu untuk melakukan hobi Saya. Saya selalu menyalahkan keterbatasan waktu dan terlalu banyaknya tanggung jawab yang harus saya kerjakan.

Setelah membaca buku ini, Saya tersadar bahwa, menikmati hidup bukanlah soal waktu dan tanggung jawab yang harus Saya kerjakan. Menikmati hidup adalah soal bagaimana Saya memandang tanggung jawab yang harus saya kerjakan. Apakah Saya memandang tanggung jawab tersebut sebagai beban yang ada di punggung saya ketika saya berjalan atau sebagai sebuah tangga yang harus saya lalui untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi? Apakah Saya memandang tanggung jawab tersebut dari sisi hitam atau putih? Sebagai contoh, di kelas partner Saya, ada seorang murid laki-laki yang belum bisa berbicara. Jika keinginannya tidak terpenuhi ia akan tantrum. Bila Saya melihat situasi tersebut dari sisi hitam dan sebagai beban baru dalam hidup Saya, pasti semuanya akan berjalan dengan sangat berat. Saya menghabiskan energi untuk mengatasi anak tersebut, berkeluh kesah tentang kehadiran anak tersebut di dalam kelas, dan lain sebagainya. Anak itu pun tidak menunjukkan perkembangan apa-apa selama ia bersekolah. Saya dan anak itu tidak mendapatkan keuntungan sama sekali. Namun, bila saya memandangnya sebagai sebuah tantangan baru, maka hasilnya pasti akan berbeda. Saya mulai berpikir bahwa melalui anak ini, Saya bisa mempraktekkan ilmu yang Saya dapatkan di bangku kuliah. Ini adalah sebuah kesempatan yang belum tentu Saya temukan di kelas lain. Lalu Saya mulai mencoba berbagai metode yang ada, hingga akhirnya Saya menemukan metode yang tepat untuk memperlakukan anak tersebut. Akibatnya, selain anak ini menunjukkan perkembangan yang baik selama ia bersekolah, Saya juga secara tidak langsung belajar untuk mengkombinasi dan memodifikasi berbagai metode yang saya pelajari secara teoritis. Saya maupun anak ini sama-sama mendapatkan keuntungan. Tentunya, semuanya akan terasa lebih ringan.

Cara ini juga mulai saya terapkan ketika menjalankan tanggung jawab-tanggung jawab lain yang harus saya kerjakan. Hal pertama yang harus dipikirkan adalah apa yang bisa saya dapatkan melalui tanggung jawab yang diberikan. Lalu, menjalaninya bukan sebagai beban.

Ada satu ayat firman Tuhan yang mengingatkan Saya akan hal menikmati hidup ini. Ayat itu terambil dari Matius 6:34, yang berbunyi “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." Melalui ayat ini Saya belajar untuk menikmati setiap tanggung jawab yang harus saya kerjakan hari demi hari. Hal ini lebih baik daripada mengeluhkannya selama berhari-hari, karena memikirkan kesulitan yang akan dihadapi di keesokan harinya.

Jadi, cara manakah yang selama ini Anda pilih untuk menjalani hidup ini? Apakah Anda menikmati hidup yang Anda jalani saat ini?


written by: Lyani Sihombing

4 komentar:

  1. hidup ini sudah susah, ngapain dibuat susah .... :P

    BalasHapus
  2. dari pada banyak berpikir, memusingkan hari esok dan tanggung jawab yang kita emban(bahasaq??,..)

    mending qta jalani hidup qta dengan usaha(dg ikhlas pastinya-->ini nasehat orang buat aq sich benerny) dan doa (Ora Et Labora) dan yang lainny nanti pasti akan ditambahkn oleh-Nya

    @Noval:SepaKat pak!

    BalasHapus
  3. no comment
    Ambon makes me lack of words :(
    alesanmodeon

    BalasHapus
  4. @noval
    setuju

    @krisnaB@ek:-)
    what an advise, hihihi

    @neesha
    really? i don't think so...

    BalasHapus