9 Desember 2008

bu tika

Aku mengira-ngira bobotnya berkisar di antara angka 60 – 70 kg. Badannya tidak terlalu tinggi. Kulitnya gelap. Rambutnya yang keriting selalu ia gulung ke atas. Setiap hari ia selalu memakai daster. Aku tidak pernah melihat ia memakai daster baru, selalu yang itu-itu saja, daster lusuh yang terkoyak di beberapa bagiannya. Logat Jawa Timur terdengar sangat kental dari mulutnya. Yah, dialah Bu Tika, ibu pembantu di kos yang dengan setia membersihkan kosku setiap hari.

Ia bangun paling pagi setiap hari. Sholat, pasti ia lakukan pertama kali. Setelah itu, ia mulai menyiapkan makanan untuk suaminya yang akan berangkat kerja dan anaknya yang akan berangkat sekolah. Bukan hanya sarapan untuk mereka, tetapi juga sangu yang meraka bawa. Sambil menunggu suami dan anaknya yang menikmati santapan yang ia hidangkan, ia membersihkan dapur. Piring-piring kotor bekas makan anak kos, peralatan dapur yang kotor bekas anak-anak kos memasak, lantai yang kotor dan lengket, semua itu ia bersihkan satu per satu.

Satu demi satu anak-anak kos mulai bangun. “Bu, indomie rebus 1 ya, pake telor. Telornya jgn diaduk, Bu,” saut seorang anak kos yang membeli sarapan darinya. Untuk pesanan itu ia memperoleh uang sebesar 3000 rupiah. “Bu Tika, ada nasi ga? Minta ya?” seorang anak kos lain meminta nasi yang sebenarnya ia masak untuk keluarganya. Untuk permintaan ini, ia tidak mendapat bayaran sepeser pun. “Bu, air minumku habis. Aku minta ya, Bu,” anak kos lain meminta aqua dari botol galonnya, yang sebenarnya merupakan konsumsi bagi keluarganya. Untuk yang satu ini pun, ia tidak mendapatkan bayaran apa-apa. Semua pesanan dan permintaan itu selalu ia jawab dengan kata-kata, “O iya, Mba!” Secepat kilat pesanan itu datang. Tidak pernah aku mendengar satu kata keluhan pun keluar dari mulutnya.

Keramaian di pagi hari pun berlalu. Suaminya dan beberapa anak kos berangkat kerja, anaknya berangkat ke sekolah, beberapa anak kos lainnya berangkat kuliah. Aku tidak tahu lagi apa yang selanjutnya ia lakukan setelah semua keramaian itu berlalu, karena aku pun harus berangkat kerja dan meninggalkannya.

“Mbak, aku masak oseng-oseng kentang. Ndak pedes kok, Mbak. Jipo’en ae. Itu nasi ya aku masak banyak. Oblok-oblok tempe ya ono nek gelem. Jipo’en ae ya, Mbak, nek kamu laper.” Kata-kata itu keluar dari mulutnya menyambut anak-anak kos yang mulai pulang kerja. Semua itu sebenarnya ia masak untuk kebutuhan keluarganya. Namun, tak jarang ia memasaknya dalam jumlah yang banyak, agar bisa dinikmati oleh anak-anak kos, tanpa bayaran sepeser pun.

Aku jadi bertanya-tanya, “Bu Tika dapat berapa sih tiap bulan?” Ini jawabannya. Untuk tugasnya menjaga dan membersihkan kos, ia mendapat bayaran lima ratus ribu rupiah setiap bulannya. Namun, bayaran ini tidak pernah dimintanya utuh. Ia hanya meminta uang sebesar tiga ratus ribu rupiah untuk ikut arisan. Sisanya ia simpan di bapak kos. “Untuk Nita (anaknya, red.) SMA nanti.” Itu alasan yang ia berikan. Berarti, kalau dihitung-hitung, ia menyimpan dua ratus ribu tiap bulannya. Lalu bagaimana dengan keperluan lainnya? Cerita ini belum berakhir. Untuk setiap indomie yang ia jual ia mendapatkan dua ribu rupiah, bila ditambah dengan telur maka ia mendapat tambahan seribu rupiah. Uang hasil penjualan indomie inilah yang ia pakai sebagai uang jajan anaknya. Kalau tidak ada yang membeli indomie, yah berarti tidak ada pemasukan. Hal ini tidak jarang terjadi. Sumber keuangan lainnya adalah dengan mencucikan baju anak-anak kos. Untuk setiap anak kos yang mencuci baju, ia memperoleh uang sebesar lima puluh ribu rupiah setiap bulan. Yah, itulah sumber pemasukannya setiap bulan. Bagaimana dengan gaji suaminya? Ia tidak pernah mendapatkan satu sen pun uang hasil kerja keras suaminya. Untuk hal ini, Bu Tika tidak pernah mengeluh.

Di sebuah bulan November yang panas. Ya, Surabaya tetap panas, di musim hujan sekalipun. Aku melihat beberapa kerabatnya datang mengunjungi. Bukan hanya satu atau dua orang, namun lebih dari itu. Secara tidak sengaja, obrolan kami (aku dan Bu Tika) mengarah pada kedatangan kerabat-kerabatnya itu. Ia mulai bercerita bahwa mereka datang untuk meminta bantuan keuangan padanya. Ia tidak bisa menolak setiap permintaan yang diajukan. Hingga minggu ketiga di bulan ini, lebih dari lima ratus ribu sudah ia keluarkan untuk menolong kerabat-kerabatnya. Obrolan kami pun terus berlanjut. Lebih banyak hal-hal yang aku ketahui. Ia pernah membantu keponakannya yang meminta tambahan uang sebesar 2 juta rupiah untuk membeli motor. Suaminya pernah pergi tanpa sepengetahuannya dengan meninggalkan utang dan cicilan motor yang belum lunas. Setiap lebaran, ia selalu mengirim amplop, berisi uang tentunya, kepada semua kerabat di kampungnya. Ini hanya sebagian kecil dari sejumlah kejadian yang terjadi di dalam hidupnya yang menuntutnya untuk mengeluarkan sejumlah uang untuk kepentingan orang lain.

Semua cerita yang ia sampaikan itu membuat aku terkejut. Sembari bercerita, bibirnya tetap tersenyum. Aku memang tidak pernah melihatnya mengeluh sedikitpun. Ia selalu terlihat bersemangat. Tawanya selalu meramaikan rumah kos kami. Ia menutup ceritanya dengan sebuah kalimat, “Yang penting bisa makan, Mbak. Alhamdullilah.” Aku terhenyak. Betapa hebatnya dia. Di tengah-tengah kekurangan yang ia miliki, ia bisa memberikan banyak pada orang lain. Ia bahkan tidak menghitung seberapa banyak uang yang telah ia keluarkan untuk menolong kerabat-kerabatnya. Akulah yang menghitungnya.
Aku teringat kalimat yang pernah aku dengar dari seorang pembicara seminar yang pernah aku ikuti, “Kekayaan yang kita miliki tidak ditentukan oleh seberapa banyak uang yang kita miliki. Namun, oleh seberapa banyak yang dapat kita berikan kepada orang lain.” Dalam kitab agamaku juga tertera ayat yang berbunyi demikian:

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-KU yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
(Matius 25: 40)


Bagaimana dengan saudara dan saya? Setiap bulan berganti HP? Setiap bulan berbaju baru? Setiap bulan menyediakan anggaran untuk perawatan di salon? Setiap bulan menyediakan anggaran untuk up-date barang-barang elektronik? Sudahkah saudara dan saya menyisakan sebagian dari apa yang kita miliki untuk orang lain yang membutuhkan? Atau apakah Bu Tika, yang hanya seorang pembantu di rumah kos, bahkan bisa memberi lebih banyak dibandingkan saudara dan saya?

written by: Lyani Sihombing

6 komentar:

  1. hem.,.,,.,.
    nice post
    bagus buat bahan renungan.,.,.,

    ibu tika ini g berpikir 2 kalee untuk ngasi orang, meski dy sndiri hidupny juga pas2-an gt

    BalasHapus
  2. kalo di laskar pelangi ada ucapannya pak Harfan :
    "Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya bukan meminta sebanyak-banyaknya".

    kapan ya bisa kayak gitu ?? ...
    ::mikir::

    BalasHapus
  3. @krisnaB@ek:-)
    amen!

    @the_rWeisz
    duhh, jd lapar nih... btw, welcome back to blogspot, hihihi!

    @noval78
    ak belum baca/nonton Laskar Pelangi nih.
    iya ya nopal, kpn ya... :)
    :ikutmikir:

    BalasHapus
  4. @ san+nopal :
    gaiktnmikirdeh,, pusing..

    @ san :
    dari pertama q uda yakin bukan km yg nulis...
    gaya tutur katanya tu lo..

    p.s: bener2 banyak lo orang yg kyk gt..
    sayangny belum termasuk aq :(

    BalasHapus
  5. Nice article, keep it going ;)

    BalasHapus